Dalam upaya pengenalan Good Agricultural Procedure (GAP) beserta produknya kepada khalayak umum, AFACI turut menjadi salah satu peserta pada pagelaran Spekta Horti 2018. Perhelatan yang digelar di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Bandung Barat pada 20-23 September 2018 merupakan acara tingkat nasional. Berbagai instansi baik pemerintahan dalam lingkup kementerian pertanian maupun di luar kementerian pertanian juga swasta turut bergabung dalam acara.
Produk unggulan AFACI yang ditampilkan dalam pagelaran ini adalah salak hasil budidaya dengan penerapan GAP. Sebanyak 400 kg salak organik segar didatangkan langsung dari petani Bp. Soetrisno dari Sukabinangun, Sleman Yogyakarta, menuju Lembang.
Adapun latar belakang mendiseminasikan produk Salak organic ini adalah untuk lebih mengenalkan kepada masyarakat tentang adanya salak organic, sehingga diharapkan adanya penghargaan yang cukup dari pasar terhadap produk yang telah menerapkan SOP/GAP. Hal ini dapat mendorong petani lain untuk menerapkan GAP dalam rangka menyongsong ketatnya persaingan pasar.
Komoditas salak didiseminasikan kepada lebih kurang 1000 pengunjung di hari pertama dan kedua acara. Jenis salak yang ditampilkan dalam Spekta Horti 2018 adalah pondoh super organik. Jenis salak ini dipilih karena beberapa keunggulan produk dan ketersediaannya. Kelebihan Salak GAP adalah tidak menggunakan pupuk kimia, petani hanya menggunakan pupuk organic dua kali dengan dosis 5 kg/rumpun dan diberikan awal dan akhir musim hujan. Pengendalian OPT menggunakan cara mekanis.
Salak pondoh super merupakan jenis salak yang banyak ketersediaanya di pasar. Melalui alasan tersebut, berarti telah banyak konsumen yang tahu cita rasa dan kenampakannya. AFACI ingin konsumen menjadi konsumen cerdas dan mampu secara nyata membandingkan perbedaan yang ada pada salak pondoh super non-organik dan salak pondoh super organik.
Sutrisno, ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Salak Sokabinangun yang merupakan gapoktan binaan AFACI menuturkan animo pengunjung yang besar. Para pengunjung tak sekadar menikmati salak yang didiseminasikan melainkan juga turut berdiskusi mengenai produk salak organik dan GAP. Pengunjung juga disuguhkan banner terkait GAP dan Non-GAP dari sisi pengertian hingga keunggulan GAP.
Telah tiga tahun Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura bekerjasama dengan AFACI (Asian Food and Agriculture Cooperation Initiative) telah mendorong untuk implementasi GAP pada tanaman salak di Sleman Yogyakarta. Adapun komoditas salak organik milik Sutrisno bersama gapoktannya, telah dua tahun menerapkan GAP dan tersertifikasi, serta satu tahun menerapkan pertanian salak secara organik. GAP merupakan pilar dasar yang harus ditegakkan sebelum menuju ke pertanian organik.
Organik, berarti bebas dari segala macam bahan kimia mulai dari in-farm hingga off-farm. Salak organik bebas kandungan bahan kimia baik pestisida, pupuk, dan bahan yang digunakan pada pasca panen. Keunggulan dari salak organik ini antara lain adalah: aman dari residu bahan kimia, daya simpan lebih lama, input produksi lebih rendah dan harga jual produk lebih tinggi dibandingkan salak dengan sistem budidaya konvensional. Produk salak pondoh milik Sutrisno telah tembus ke beberapa Negara di Eropa karena terpenuhinya sayarat GAP dan organik produk tersebut.

