Tak Hanya Mencukupi, Cabai Juga Harus ‘Aman’

Ungkapan ‘makan tak lengkap tanpa sambal’ rasanya memang tidak berlebihan bagi masyarakat Indonesia. Tidak dapat diragukan lagi bahwa Cabai merupakan salah satu bumbu dapur penting bagi hampir seluruh masyarakat di Indonesia. Cabai sendiri merupakan salah satu produk pertanian yang acap kali menyumbang keributan besar di pasar karena harganya yang fluktuatif.

Salah satu fokus pemerintah utamanya Kementerian Pertanian adalah menstabilkan harga primadona satu ini. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura bekerjasama dengan AFACI memilih langkah tambahan untuk komoditas cabai, yaitu tak sekadar stabil pasokannya melainkan juga produksi yang sustain dan aman konsumsi. Dengan penerapan GAP pada komoditas cabai, produk cabai yang stabil pasokan, sustain dan aman bukanlah angan belaka.

Penerapan GAP tak serta merta dapat diwujudkan. Untuk itu, AFACI dan Puslitbang Hortikultura bersama-sama menggelar acara bimbingan teknis (bimtek) untuk petani caba. Bimtek dilaksanakan pada tanggal 23-25 Oktober 2018 di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dipilihnya lokasi Bimtek di Kab Garut adalah karena Kab Garut merupakan salah satu kawasan cabai yang telah ditentukan oleh pemerintah, selain itu kab Garut merupakan penyangga pasar ketika harga cabe nasional tinggi. Bimtek diikuti oleh 10 petani dan 10 penyuluh dari 10 kecamatan yang ada di Kabupaten Garut. Sepuluh kecamatan tersebut adalah kec. Cikajang, kec. Banyuresmi, kec. Cibiuk, kec. Cigedug, kec. Sukaresmi, kec. Pasirwangi, kec. Samarang, kec. Pangatikan, kec. Cilawu, kec. Sucinara. Nara sumber Bimtek adalah para peneliti yaitu Ir. Tony K Moekasan, Dr. Laksminiwati, Ir. Ineu Sulastrini, MS, Ir. Neni Gunaeni (Balai Penelitian Tanaman Sayuran), serta peneliti Heru S, S.Si, M.Sc dan Ir. Enjang Sujitno, MP dari Balai Pengkajian Tanaman Pertanian Jawa Barat (BPTP Jawa Barat), serta Bp. Ulus yaitu petani sukses sebagai pioneer yang sudah menerapkan GAP.

Tujuan Bimtek adalah 1). melakukan sosialisasi Good Agriculture Practices, 2). melakukan pelatihan pengendalian hama dan penyakit, 3). menyusun catatan harian petani dalam rangka mendorong petani untuk melakukan registrasi kebun dan 4). menyusun SOP budidaya cabai. Untuk setiap materi diberikan kesempatan kepada peserta untuk diskusi mengenai permasalahan yang dihadapi dalam budidaya cabai. Sebagian besar petani sudah mengenal kaedah-kaedah GAP namun ternyata belum melaksanakannya. Dalam kegiatan Bimtek dilakukan evaluasi pengetahuan petani dan penyuluh pada saat sebelum dan sesudah mengikuti Bimtek. Metode yang dilakukan adalah dengan pre test dan posttest. Sebelum dilaksanakan Bimtek, peserta diminta menjawab beberapa pertanyaan terkait materi Bimtek, demikian pula sesudah pelaksanaan Bimtek. Tujuan evaluasi ini untuk mengetahui seberapa besar peningkatan pengetahuan peserta Bimtek terhadap materi yang sudah disampaikan.

Peningkatan pengetahuan PPL sekitar 37.85% dan untuk petani sekitar 37.18%. Kegiatan Bimtek ini sejalan dengan program pemerintah daerah, sehingga Dinas Pertanian Kab Garut sangat mengapresiasi kegiatan Bimtek. Untuk selanjutnya akan mengawal dan mendorong para petani yang sudah dilatih untuk menerapkannya dalam budidaya cabai selanjutnya. Diharapkan pada tahun 2019, kegiatan kerjasama dengan AFACI masih berlanjut, sehingga Puslitbang Hortikultura dapat mendampingi para petani yang siap melakukan registrasi kebun.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *