Asian Food And Agriculture Cooperation Initiative (AFACI) Regional Project

Development Of Locally-Appropriate Gap Programmes and Agricultural Produce Safety Information System In Indonesia

Indonesia merupakan negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi makro yang cukup baik terlihat dari meningkatnya taraf ekonomi warga negaranya. Peningkatan taraf ekonomi tersebut berimplikasipada perubahan gaya hidup dalam mengkonsumsi produk pangan dan pertanian. Saat ini konsumen menginginkan produk pangan yang mereka konsumsi memiliki kualitas yang baik dan aman sehingga produk pangan perlu diproduksi dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan. Berbagai hal tersebut memperlihatkan bahwa tantangan pertanian pada saat ini tidak hanya dalam aspek perdagangan tetapi juga aspek teknis meliputi budidaya,  prapanen, pascapanen, serta distribusi untuk menjamin keamanan dan mutu dari produk pangan tersebut.

Aspek keamanan dan mutu bahan pangan menjadi hal krusial menyangkut pertanian Indonesia, dimana Indonesia merupakan negara agraris dan sebagian besar petani yang tinggal di desa dan berada dalam kondisi tidak sejahtera. Berdasarkan data statistik, sebanyak 56% penduduk Indonesia tinggal di pedesaan dan berprofesi sebagai petani. Kondisi ekonomi petani tersebut membuat aspek keamanan dan mutu dari hasil pertanian menjadi bukan prioritas utama, karena yang lebih dipentingkan adalah keuntungan yang cukup untuk menyambung kehidupan para petani di Indonesia. Oleh karena itu, agar produk pertanian nasional khususnya hortikultura memiliki daya saing, terlebih lagi dengan adanya perdagangan bebas Asia tahun 2015, Indonesia harus memiliki sebuah sistem pertanian yang efisien untuk menghasilkan komoditas hortikultura nasional yang bermutu tinggi dan aman dikonsumsi.

Salah satu komoditi pertanian yang sangat strategis di Indonesia adalahhortikultura, karena komoditas ini menyumbang kontribusi yang cukup besar dalam pemenuhan gizi masyarakat. Konsumsi hortikultura dalam skala rumah tangga mencapai 16,1 persen. Kebutuhan akan komoditas hortikultura semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Diperlukan penanganan produksi hortikultura secara baik dan efisien untuk menjamin mutu dan kualitas hortikultura sampai ke tangan konsumen. Oleh karena itu diperlukan sistem budidaya tanaman hortikultura yang baik dan benar melalui Good Agricultural Practices (GAP). GAP dirancang untuk mengurangi resiko terserangnya hama penyakit dan kerusakan pangan hortikultura segar. GAP dilakukan dari proses produksi, panen, pascapanen hingga distribusi bahan pangan hortikultura. Dalam implementasinya, GAP memerlukan standard operational procedur (SOP) yang tentunya berbeda untuk setiap komoditas spesifik lokasi. Implementasi GAP diperlukan untuk menjamin terciptanya budidaya hortikultura  berkelanjutan, secara spesifik adalah untuk menciptakaan keamanan dari produk, kualitas, ramah lingkungan dan umur simpan dari produk pangan tersebut serta meningkatkan nilai kompetitif dari produk tersebut, yaitu dalam mengurangi penggunaan pestisida dan penyakit tanaman hortikultura.

Pada dasarnya penerapan GAP di setiap negara berkaitan erat dengan penggunaan teknologi hortikultura, karena GAP dan teknologi merupakan hal yang tidak dapat terpisahkan. Pengembangan teknologi hortikultura di setiap negara umumnya berbeda-beda sesuai dengan tingkat kemajuan dari negara tersebut. Asian Food and Agriculture Cooperation Initiative (AFACI) sebagai wadah kerjasama multilateral memiliki tujuan untuk meningkatkan produksi pangan, mencapai pertanian berkelanjutan, sertameningkatkan pengetahuan dan informasi mengenai teknologi budidaya hortikulturaantar negara asia. AFACI berkontribusi pada pengembangan ekonomi antar anggotanya melalui kerjasama teknologi pangan hortikultura, sehingga mendukung penerapan GAP antar anggota AFACI.

Kegiatan dari AFACI diantaranya adalah identifikasi masalah-masalah pertanian terkini, serta  membangun proyek penelitian, pelatihan, dan lokakarya sesama anggota AFACI. Proyek penelitian tersebut terbagi dalam proyek asia, regional, dan negara. Pelatihan dan lokakarya antar anggota AFACI memfasilitasi mengenai pembagian informasi dan transfer teknologi pada sektor pertanian dan pangan. Sementara program pertukaran ahli ditujukan untuk transfer ilmu pengetahuan dan pengembangan kapasitas antar negara AFACI. Kegiatan AFACI Regional Project “Development of Locally-Appropriate GAP Programmes and Agricultural Produce Safety Information System in Indonesia”akan dilaksanakan selama 3 tahun.